Oleh: Muhammad Afrizal

Sejarah dan Perkembangan Kuliner Dunia

Pada abad ke-17, di kawasan Eropa, penyajian makanan di kediaman para bangsawan harus memiliki kualitas yang sangat baik, penataan yang menarik, hingga pengaturan meja dan perangkat makan lainnya yang harus dilakukan dengan sangat mewah. Makanan yang disajikan tersebut dikenal dengan istilah Haute Cuisine dan hanya dapat ditemukan di kediaman para bangsawan dan dinikmati oleh golongan dengan strata sosial tinggi. Konsep Haute Cuisine yang merupakan masakan yang diolah dengan berbagai macam teknik memasak serta disajikan dengan sangat cantik dan memiliki rasa yang sangat enak menjadi semakin dikenal.

Di awal abad ke-18, restoran modern pertama diperkirakan berdiri, tepatnya pada tahun 1765 di Perancis oleh A. Boulanger. Menu yang ditawarkan di restoran tersebut adalah semangkok sup.

Di akhir abad ke-19, seorang pakar kuliner Perancis, Georges Auguste Escoffier, membuat sebuah buku yang berisi lebih dari 5.000 resep masakan Perancis beserta metode pengolahannya. Hingga saat ini buku tersebut masih sering digunakan sebagai buku standar dalam pendidikan bidang kuliner.

Pada tahun 1877, Boston Cooking School menjadi sekolah memasak pertama di Amerika. Selanjutnya pada tahun 1946 berdiri The Culinary Institute of America (The CIA), sebuah sekolah memasak ternama didunia. Sekolah ini mampu membawa metode baru dalam proses mendidik calon-calon profesional di bidang kuliner.

Pada tahun 1895, di Benua Eropa berdiri Le Cordon Bleu, salah satu sekolah bidang kuliner tertua dan terkemuka hingga saat ini. Sekolah ini lahir dari sebuah program kursus memasak. Hingga saat ini Le Cordon Bleu telah beroperasi di berbagai negara dengan jumlah lebih dari 50 sekolah, tidak saja hanya di Eropa, namun hingga Thailand dan Malaysia.

Sejak tahun 2005, UNESCO melalui program Creative City Network (CCN), mendefinisikan tujuh subsektor dalam cakupan industri kreatifnya di mana kuliner/gastronomi termasuk di dalamnya. Program CCN ini memfasilitasi proses pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan sumber daya antar anggotanya sebagai jalan untuk mengangkat industri kreatif lokal dan menumbuhkan kerjasama di seluruh dunia dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

Chengdu Pun Menjadi Kota Pertama Di Asia Yang Menjadi Kota Kuliner. Chengdu memiliki budaya kuliner yang unik, di mana mampu mengeksplorasi potensi lokal dan melakukan pelestarian dan pengembangan budaya dengan sentuhan kreativitas.  kota ini juga memiliki potensi yang kaya dalam sumber daya dan sering mengadakan berbagai program atau festival di bidang kuliner berskala internasional, seperti International Food and Tour Festival. Visi dari Chengdu sebagai jaringan kota gastronomi UNESCO adalah membawa kuliner tradisional Sichuan memilki standar dan kualitas internasional.

Sejarah dan Perkembangan Kuliner Indonesia

Saat Perang Dunia I terjadi, pasokan bahan baku utama makanan dari Belanda terputus dan menyebabkan orang-orang Belanda yang ada di Indonesia mulai mencoba makanan Indonesia yang kemudian berkembang menjadi menu yang disebut Rijsttafel. Pada dasarnya Rijsttafel bukan sebuah nama makanan, melainkan cara makan yang memiliki arti sederhana yakni “meja nasi”. Rijsttafel merupakan bentuk dari penggabungan dua budaya, metode penyajian ala bangsawan Eropabersanding dengan sajian masakan nusantara yang bisa mencapai 40 jenis makanan dalam satu meja. Menu-menu yang biasa disajikan adalah Nasi Goreng, Rendang, Opor Ayam, dan Sate yang dilengkapi dengan Kerupuk dan Sambal. Meski populer di Belanda dan luar negeri, saat ini Rijsttafel jarang ditemukan di Indonesia. Salah satu restoran yang konsisten menyajikan berbagai menu dengan konsep Rijsttafel hingga saat ini adalah Restoran Oasis di Jakarta yang berdiri sejak 1968.

Di tahun 1960-an dan 1970-an, perkembangan dunia kuliner Indonesia dari sisi pendidikan mulai berkembang dengan berdirinya beberapa lembaga pendidikan tinggi bidang kuliner. Salah satunya adalah Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) yang bermula dari didirikannya Sekolah Kejuruan Perhotelan (SKP) pada tahun 1959 di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tahun 1967, Departemen Pertanian menerbitkan sebuah buku masakan yang diberi judul Mustika Rasa.

Sejarah perkembangan wisata kuliner di Indonesia

Sejarah Perkembangan Wisata Kuliner di Indonesia
Sumber : Rencana Pengembangan Kuliner Nasional 2015 – 2019

Di akhir tahun 1980-an, pengawasan terhadap produk makanan dan minuman di Indonesia mulai mendapat sorotan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dengan kepastian halal tidaknya produk-produk tersebut. Hal ini dikarenakan kondisi di mana Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam.

Perkembangan kuliner di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran media. Sejak awal tahun 2000-an hingga kini, semakin banyak program televisi lokal yang menyiarkan program kuliner, mulai dari acara memasak hingga kompetisi memasak. Hal ini juga diikuti dengan profesi pendukung dunia kuliner yang ikut serta mengangkat perkembangan dunia kuliner di Indonesia. Profesi food photograper, food stylist, hingga food blogger semakin marak berkembang sejak tahun 2010.

Definisi Wisata Kuliner

Menurut  Hall dan Mitchell, (dalam Food Tourism Arround the World, 2003 : 10) “Food tourism may be defined as visitation to primary and secondary food producer, food festival, restaurant, and specific locations for which food tasting and/or experiencing the attributes of specialist food production region are the primary motivating factor for travel”. wisata kuliner merupakan kunjungan berwisata yang berbeda dari kegiatan wisata pada umumnya hal ini dikarenakan wisata ku’liner tidak hanya perjalanan seseorang untuk berekreasi melainkan suatu kegiatan yang didalamnya untuk mencicipi makanan yang terdapat di destinasi,  mengunjungi  kawasan spesifik seperti tempat produksi makanan,restoran dan Festival makanan, dari komponen tersebut menjadi suatu motivasi dan  faktor pendorong utama  untuk melakukan perjalanan ke destinasi.

Ignatov dan Smith (2006) mendefinisikan wisata kuliner sebagai berikut:  suatu perjalanan berpergian (i) membeli atau mengkonsumsi makanan lokal atau (ii) mengamati dan meneliti proses produksi makanan (dari agricul -membawa ke sekolah memasak), dan melihat ini sebagai motivasi penting untuk bepergian atau kegiatan perjalanan yang penting.

Peran Kuliner yang terdapat di sebuah destinasi mampu menjadi identitas dari destinasi tersebut dikarenakan adanya seni dalam kuliner yang disajikan dari setiap kuliner yang ada hal ini disampaikan dalam sebuah konsep terkait Makanan adalah aspek budaya yang menyoroti perbedaan budaya regional, dan merupakan batu penjuru identitas budaya (Delamont, 1994). Sebagai contoh, spageti di Italia, wurst di Jerman, dan quiche di Perancis adalah makanan penting dari masing-masing negara.

Menurut dari jurnal Strategi Development Cuilnary. Pemgembangan wisata kuliner juga harus mengeksplorasi terkait sumbaer daya agar dapat menjadi sebuah keunggulan bagi membangun citra destinasi. Dalam jurnal ini ada kategori yang disampaikan terkait sumber daya wisata kuliner seperti yang disampaikan hubungan antara makanan dan citra desentralisasi pariwisata, kita harus terlebih dahulu memeriksa sumber daya pariwisata yang ada dan menentukan keunggulan kompetitif destinasi wisata. Quan dan Wang (2004) tujuan perjalanan harus dimulai dengan memeriksa sumber daya wisata kuliner yang ada untuk mengidentifikasi keunggulan kompetitif tujuan perjalanan ini dalam mengembangkan wisata kuliner. Smith dan Xiao (2008) mengkategorikan sumber daya wisata kuliner menjadi empat jenis: fasilitas (bangunan / struktur, penggunaan lahan, jalur), kegiatan (konsumsi, penglihatan, pendidikan / pengamatan), peristiwa (kinerja) mance, festival), dan organisasi (kategorisasi restoran / program sertifikasi, asosiasi).

Kuliner dan Pariwisata

Pentingnya hubungan antara makanan dan pariwisata  ditegaskan John Selwood (1993)  dengan statement:  Food  is one of the most important attractions sought out by tourists in their craving for  new and unforgettable experiences. Makanan punya kekuatan besar untuk  untuk menjadi attraksi wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan mancanegara maupun nusantara. Setiap destinasi  memiliki tingkat daya tarik yang berbeda yang dapat menarik wisatawan dari berbagai negara Ke-otentikan dan kemenarikan makanan dapat menarik pengunjung untuk datang ke destinasi (Au dan Law, 2002).    Getz dan Brown (2006)  bahwa wisata kuliner dapat dikaitkan dengan minat wisatawan pada makanan dari destinasi. Di sisi lain , destinasi akan menggunakan makanan sebagai daya tarik utama dan akan mengembangkan strategi pemasaran yang akan fokus pada makanan.

Wisata Kuliner di Kota Bandung

Kota Bandung merupakan destinasi yang dapat dikategorikan sebagai destinasi wisata kuliner hal ini dilihat dari berbagai komponen dari sumber daya wisata kuliner seperti yang diungkapakn melalui konsep Smith dan Xiao (2008). Adapun dalam pengembangan destinasi wisata kuliner terdapat beberapa komponen seperti yang telah dikemukakan.             Terkait hal tersebut secara gambaran Bandung memiliki kuliner local seperti : Batagor, Seblak, Nasi Tutug Oncom, Karedok, Mie Kocok, Surabi dan sebagainya (https://www.tripzilla.id/makanan-khas-bandung).

Selain itu berdirinya pendidikan yang mempelajari terkait tata boga atau seni dari kuliner seperti salah satunya STP NHI Bandung merupakan sekolah pariwisata didalamnya memiliki program edukasi terkait makanan dan minuman. Kemudian berbagai macam festival dan Event yang diselenggarakan dengan mengangkat wisata kuliner menjadi sebuah daya tarik untuk wisatawan datang berkunjung seperti festival FoodFest Bandung pada tahun 2018 yang diadakan di Citilink, dilanjutkan Event yang baru berlangsung tahun ini yaitu Kirana Parahyangan di Museum Geologi Bandung 2019. Terkait Kegiatan Wisata adanya Paket Paket wisata yang menjadikan wisata kuliner sebagai Atraksi Wisata didalam Paket Tour Tersebut yaitu Indoribu Tour and Travel. Adanya organisasi seperti PHRI yang bergerak terkait wisata kuliner. Berbagai Macam Fasilitas Wisata Kuliner yang ada dikota Bandung, Restaurant, Rumah Makan, dll. Hal ini secara gambaran Kota Bandung memiliki daya tarik wisata kuliner yang ada  di dalam Destinasi.

Referensi

Hall, M. C. dan  Sharples, L. 2003. Food Tourism Around the World : Development, Management, And Markets. UK: Butterworth-Heinemann Publications.

Jeou-Shyan Horng and Chen-Tsang (Simon) Tsai, 2011, Culinary Tourism Strategic Development: an Asia-Pacific Perspective. international journal of tourism research. Published : online 9 February 2011 in Wiley Online Library

Mandra Lazuardi Dan Mochamad Sandy Triady, 2015, Rencana Pengembangan Kuliner Nasional 2015 – 2019, Cetakan ke-1, Jakarta : PT. Republik Solusi

Nurhidayati, Sri Endah, kuliner lokal sebagai sumber daya wisata di era global, dalam www.academia.edu

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *