Oleh: Yohanes Algian

Pendahuluan

Pada abad 21 ini, sebagian besar manusia dewasa menghadapi permasalahan yang sama, yaitu perasaan terisolasi, depresi dan stress, yang diakibatkan oleh jam kerja yang telalu lama, dan tekanan dari tradisi dan komunitas (Smith, 2003, hal. 103). Manusia ini mulai mencari penghiburan dengan kegiatan yang dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan spiritual mereka (Smith, 2003, hal. 103). Salah satu caranya adalah dengan mulai menarik diri dari segala bentuk materialistik keseharian mereka, dan mulai mencari lingkungan yang lebih sederhana dan alami dimana mereka bisa menjadi diri mereka sendiri (Smith, 2003, hal. 103). Kegiatan perjalanan dipilih sebagai bentuk pelarian atau misi dalam berdamai dengan tubuh, pikiran, dan jiwa diri sendiri, yang kerap kali tidak dapat dilakukan dalam rumahnya sendiri (Smith, 2003, hal. 103).

Pada tanggal 21 – 22 November 2012, UNWTO mengadakan konferensi international mengenai Spiritual Tourism for Sustainable Development di Ninh Binh City, Vietnam. Dalam konferensinya, dijabarkan bahwa pada tahun 2012 sendiri terdapat 1 miliar wisatawan yang melakukan kegiatan wisata. Namun tidak banyak wisatawan dengan secara sadar  mengatakan mereka melakukan kegiatan wisata spiritual (UNWTO, 2013, hal. 2). Padahal, wisatawan yang banyak ini seharusnya bisa memaknai kegiatan wisatanya lebih dari sekedar sarana pelepas penat, hiburan atau penghilang kebosanan, apabila masing – masing wisatawan memaknai kegiatan pariwisatanya sebagai media pengembangan spiritual (UNWTO, 2013, hal. 2). Selain itu, cara pandang kegiatan pariwisata secara spiritual dapat menjadi sarana untuk peningkatan pribadi menjadi lebih pengertian, toleransi dan rasa hormat kepada manusia lain melalui interaksi sosial ataupun pertukaran budaya antara wisatawan dengan masyarakat lokal dan wisatawan dengan wisatawan lainnya (UNWTO, 2013, hal. 2). Salah satu penyebab Spiritual Tourism kurang dikenal, karena pengertian Spiritual Tourism yang masih dianggap sebagai satu kesatuan dengan Religious Tourism ataupun Pilgrim Tourism, yang identik dengan mengunjungi situs – situs keagamaan (Parazsthy, 2015, hal. 13). Padahal ketiga terminologi pariwisata ini memiliki makna, segmen, dan cara pengembangan yang berbeda (Parazsthy, 2015, hal. 19).

Perbedaan Spiritual, Pilgrimage, dan Religious

Spiritual Tourism bukanlah sebuah fenomena baru dalam Pariwisata.  Sejak agama/keprcayaan muncul, manusia sudah di anjurkan untuk berkelana menuju tempat sakral, dan suci dalam agama/kepercayaan-nya masing – masing (Vukonić 1996, hal. 6). Manusia ini sudah memaknai pejalanan tidak hanya sebagai ajang rekreasi, namun juga sebagai sarana untuk mencari jati diri, memuaskan keinginan, dan mencari makna hidupnya masing – masing. Spiritual Tourism didasari oleh pengalaman unik yang dialami masing – masing wisatawan dalam kegiatannya berwisata (Haq, 2011, hal. 18), segala hal dapat di-intepretasikan spiritual apabila menciptakan pengalaman batin bagi wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki tempat, cerita, atau topik yang membangkitkan sisi antusias dan rasa penasaran dalam dirinya. Pengalaman unik ini memberi gambaran baru bahwa pengalaman wisatawan tidak selalu mengenai hedonisme, tetapi juga sarana pencapaian, pencarian, dan memaknai tujuan hidup (Philip, 2014, hal. 2).  Namun, tidak seperti bidang pariwisata yang lain, belum terdapat data statistik akurat mengenai Spiritual Tourism, begitupula dengan konsep dan literatur mengenai Spiritual Tourism (Haq, 2011, hal. 22). Setiap penelitian yang dilakukan selalu menghasilkan teori yang berbeda walaupun masih saling berhubungan (Haq, 2011, hal. 22).

Kata Spiritual berasal dari bahasa Latin ‘spiritus’ yang artinya ‘nafas kehidupan’. Spiritualitas adalah bagaimana seseoraang menemukan makna hidup dan belajar mengalami sesuatu yang ilahi tanpa bantuan organisasi keagamaan (Paraszthy, 2015). Spiritualitas dilihat dari perspektif umum dan komersial dipengaruhi oleh 4 faktor utama:  kesadaran diri sendiri, pemaknaan diri, keterkaitan dengan kekuaatan eksternal, dan gagasan pribadi mengenai kekuatan ekstenal (Kale, 2004). Untuk mencapai spiritualitas dibutuhkan 3 elemen penting: atensi pada Tuhan/Semesta/Roh Agung, atensi pada diri sendiri, dan atensi pada orang lain (Farooq, 2011). Segala hal bisa diartikan sebagai hal yang spiritual apabila menimbulkan perasaan spiritual bagi masing – masing individu (Paraszthy, 2015). Pandangan eksistensial mengenai spiritualitas adalah keinginan dan kebutuhan untuk menemukan makna dalam hidup seseorang, sehingga membantu seseorang untuk hidup dalam kosmos yang lebih luas (Farooq, 2011). Karena sifatnya ini, spiritual tourism bisa merambah ke banyak aspek, termasuk tempat – tempat yang tidak ada kaitannya dengan hal – hal keagamaan atau tempat – tempat sakral. Dalam hal mencari jati diri dan makna hidup, kegiatan bepergian menjadi sarana yang penting dalam meningkatan spiritualitas pribadi (Heelas & Woodhead, 2005) karena dengan bepergian, manusia belajar untuk melihat hal – hal yang sangat berbeda dari norma dan kebiasaan yang berlaku di daerah asalnya. Dengan begitu manusia dapat belajar mengenai tolerasi.

Spiritual Tourism bersifat universal, seseorang tidak harus beragama untuk menikmati kegiatan spiritual tourism. Spiritualitas adalah pengalaman pirbadi, atheis dan agnostic juga dapat mendapatkan spiritualitasnya dalam pengalamannya dengan alam atau pribadinya sendiri tanpa harus percaya dengan konsep Tuhan atau berhubungan dengan agama (As Heelas, 1998)

Religius dideskripsikan sebagai sistem kepercayaan dan partisipasi dari sebuah grup, yang biasanya mengatur etik, moral dan nilai sosial (Paraszthy, 2015), juga berupa pemujaan terhadap suatu konsep entitas. Survey yaang dilakukan WIN-Gallup International pada tahun 2012 menghasilkan data sebanyak 59% populasi dunia adalah orang yang religius, baik mengikuti agama mayoritas maupun kepercayaan adat. Sebanyak 13 % Populasi dunia adalah atheis, artinya mereka menolak konsep “Tuhan”, namun bukan berarti mereka juga menolak segala bentuk spiritualitas (Farooq, 2011). Wisatawan Religius cenderung fokus dalam rencana perjalanan dan bidang minat mereka, bahkan Wisatawan Religius lebih ingin tour guide yang memandu mereka memiliki cara pandang yang sama seperti agama  yang mereka yakini. Penyebabnya ialah Wisatawan Religius akan gelisah apabila obyek wisata religius di-intepretasikan berbeda dari apa yang mereka yakini selama ini (Olsen, 2003). Spiritualitas dan agama menjadi dua terminologi yang benar – benar berbeda sejak selesainya perang dunia II. Olsen (2003) menyatakan kalau sistem agama hanyalah sebuah komoditas pemasaran, dijelaskan lebih lanjut oleh Aldred (2000) setiap individu diberi kebebasan untuk memilih paket – paket sistem kepercayaan/agama dengan analogi “Beli agamaku, maka hidupmu akan berubah. Otomatis masuk surga”. Yang ingin ditekankan dari perbedaan ini adalah spiritualitas tidak memiliki batasan. Spiritualitas bukanlah sebuah keyakinan, melainkan cara pandang.

Pilgirm didefinisikan sebagai perjalanan fisik dengan tujuan mencari kebenaran, sakral dan suci (Vukonic, 1996). Pilgrim lahir dari kepercayaan dan hasrat. Hasrat untuk menyelesaikan segala masalah umat manusia, dan kepercayaan adanya kekuatan melebihi kekuatan manusia untuk meringankan beban saat ini dan saat yang akan datang (Morinis, 1992). Artinya, Pilgrim adalah salah satu bentuk perjalanan manusia yang kuno sebelum munculnya terminologi wisata. Pilgrim meliputi sightseeing, travelling, mengunjungi berbagai tempat, mengadakan perjalanan melalui udara atau laut, dan membeli memorabilia lokal (Olsen 2006). Pembeda pilgrim dari wisatawan pada umumnya ialah pilgrim bersikap saleh dan rendah hati,  dan peka terhadap budaya setempat, sementara wisatawan adalah seseorang yang hedonistik, penuntut, dan jauh lebih membebani dalam hal kebutuhan, keinginan, dan pelayanan (Olsen, 2006). Tujuan utama dari seseorang melakukan Pilgrim adalah misi mereka mencari keyakinan dalam agama yang diyakini, sehingga mereka mengaharapkan adanya pengalaman mistis atau ilahi dalam perjalanan. Lokasi yang dikunjungi adalah tempat – tempat yang dianggap sakral dan suci seperti tempat  ibadah, gunung, makam.

Sumber: Alex Norman (2008)  

Alex Norman (2008) menggabarkan Pilgrim, Spiritual Tourism dengan Religius Tourism sebagai terminologi yang saling beririsan. Spiritual Tourism dianggap sebagai identitas dan maksud perjalanan wisatawan. Sehingga, Spiritual Tourism bisa mengambil tempat dalam tradisi Pilgrim, dan dapat merepresentasikan Religious Tourism. Yang membedakan Spiritual Tourist dengan Religious Tourist dan Pilgirm adalah keinginan wisatawan mengembangkan spiritualnya secara sekuler, tidak diasosiasikan dengan agama.Dilanjutkan oleh Alex Norman, terdapat 5 bentuk pengalaman yang didapat dari Spiritual Tourism;

  • Spiritual Tourism as Healing; Wisatawan mengidentifikasi status dan nilai dalam setiap hubungan yang mereka jalin. Mencari obat atas luka batin. Bentuknya diasosiasikan dengan Wellness Tourism.
  • Spiritual Tourism as Experiment; Mencari alternatif ketika hidup mulai bermasalah, atau membutuhkan ulasan/revisi dari pilihan hidup yang mereka ambil.
  • Spiritual Tourism as Quest; Misi pencarian jati diri atau pengetahuan. Menggali makna arti hidup dalam dan dari dirinya sendiri sebagai pengalaman spiritual.
  • Spiritual Tourism as Retreat; Pelarian dari penat dan kesibukan sehari – hari. Seringkali wisatawan mencari pelarian sosio-geografis dibandingkan penyembuhan emosi atau fisik.
  • Spiritual Tourism as Collective; Seseorang melakukan perjalanan karena menganggap situs yang akan dikunjungi sebagai sesuatu yang sepatutnya memang dikunjungi.

Laura Paraszthy Thesis “Spirituality as a hidden tourist attraction” (2015)

Laura Paraszthy dalam thesisnya tahun 2015 membahas Spiritualitas sebagai atraksi wisata yang harus digali lebih dalam. Mayoritas wisatawan tidak sadar mengenai keinginan dan ketertarikan spiritualnya masing – masing, dengan beralasan bahwa mereka tidak tertarik dengan fenomena spiritual atau hal religius. Padahal mayoritas wisatawan ini merasakan kegembiraan dan relaksasi yang sama, dengan wisatawan yang menyatakan dirinya sebagai spiritual tourist, ketika mereka berada di alam, dibuktikan dengan bukti fisik berupa peningkatan denyut jantung dan pernafasan yang cepat.

Karakteristik utama dari ketertarikan spiritual adalah rasa penasaran. Seperti wisatawan yang penasaran akan desa kuno yang dahulu memiliki kehidupan sosial yang mistis atau fenomena alam yang tidak biasa, buku – buku best seller mengenai pemulihan jiwa dan ketenangan batin, hingga banyaknya resort dan hotel yang menawarkan program retreat.

Melalui Thesisnya, Laura Paraszthy menghasilkan kategorisasi Spiritual Tourism sebagai berikut;

  • Sacred Place: Buddhist saint mountain and meditation center – Wat Khao Tam, Holy Land (Mecca, Jerusalem), Mahabodhi Temple India
  • Spirituality Related to a scene of a movie: The Mummies, Tomb Rider
  • Supernatural Phenomenon: Nazca Lines, Crop Circle
  • Unusual Ethnical Experience: Padong Hill Tribe, Baduyuh Tribe
  • Uncommon Program: Alcatraz Prison Island, Visit the Golden Triangle – house of ophium production
  • Attraction in connection with death: Momento park of the victim of Holocaust, Firaun Shrine
  • Outstanding Historical Value: Aztec ruin city, Maya ruin city
  • Real spiritual destination: Mythical ruin city of Machu Picchu, Ritual Bathing India
  • Place Connected to a famous personality: Michael Jackson house, Birthplace of Albert Einstein
  • Biblical Importance: Baptismal site on the Jordan River, Noah’s Arc
  • Interesting Geological Location:         Greenwich, Toba Lake
  • Extremes: Biggest Buddha Statue, Oldest Chinese Cemetery

Pencarian Diri Sendiri

Kegiatan perjalanan mengijinkan pelakunya secara utuh mengalami atau menikmati ke-eksotisan dari sisi dirinya yang lain, dan disaat yang bersamaan menemukan identitas dari diri sendiri (Smith, 2003, hal. 104). Artinya, kegiatan perjalanan secara tidak langsung memberikan persona baru dari otensitas diri sendiri yang disebut metensomatosis atau role-playing. Seaton pada tahun 2002 menjelaskan bahwa wisatawan terkadang berkata bahwa mereka, ketika kembali dari kegiatan berlibur, mereka telah berubah, namun dalam kenyataannya, yang terjadi ialah mereka selama perjalanan menganggap dirinya sebagai seorang ilmuan, pengelana, sejarahwan, atau peran apapun yang mereka idam – idamkan, namun ketika mereka kembali pulang, mereka kembali menjalani peran mereka sebelumnya (Smith, 2003, hal. 104). Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan perjalanan mengijinkan kita untuk keluar dari rutinitas dan kehidupan biasa, dan hidup dalam impian. Lebih lanjut, Seaton tahun  2002 membagi tipologi wisatawan sebagai berikut;

Tabel Perbedaan Mass Tourist dengan Spiritual atau Holistic Tourist

Mass Tourist Spiritual or Holistic Tourist
Seeking escapism from everyday life Seeking personal enhancement or enlightenment
Prefers organized and guided activities Prefers autonomy, personal space and freedom
Likely to engage in hedonistic behavior Likely to engage in individual or collective religious or spiritual activities
Prefers predictable experiences reminiscent of home Enjoys simple or natural experience in harmony with nature
Little or no interest in authentic local experiences Seeking “existential” authenticity
Has little interest in interacting with local people May join local people in ritualistic traditions

Sumber: Smith (2003)

Tipikal wisatawan spiritual cenderung mencari kebebasan dan ruang personal. Mereka merasa terintimidasi dengan buku panduan, atau aturan yang baku. (Smith, 2003, hal. 105)

Kesimpulan

Spiritual Tourism bisa menjadi alternatif baru dalam menciptakan sustainability. Sifatnya tidak hanya memberikan harmoni dalam diri masing – masing wisatawan, harmoni dalam interaksi antara wisatawan dengan orang – orang yang ditemui, namun juga harmoni manusia dengan alam. Spiritual Tourism bukan hanya sebuah tempat yang sakral dan religius, Spiritual Tourism adalah cara pandang baru. Memaknai segala pengalaman yang diterima wisatawan sebagai sebuah transformasi hidup menjadi pribadi yang lebih baik. Keuntungan lainnya, Spiritual Tourism bisa menyasar semua segmen, tidak ada batasan finansial maupun umur. Setiap wisatawan dapat menemukan jenis spiritual dan program spiritual yang cocok, dimulai dari yang perjalanan mewah yang segala kegiatannya sudah inclusive hingga tipe backpacking yang segala kegiatannya bisa dengan mudah diatur.

Referensi

Benerjee, Moushumi. 2015. Spiritual Tourism: A tool for Socio-Cultural and Sustainable Development.Dalam International Journal of Science and Research. Volume 5 Issue 10.

Farooq, Muhammad Haq. 2011. Marketing Spirituality: A Tourism Perspective. Darwin: Charles Darwin University

Norman, Alex. 2004. Spiritual Tourism: Rligion and Spirituality in Contemporary Travel. Sydney: University of Sydney.

Norman, Alex. 2012. The Varieties of Spiritual Tourist Experience. Dalam Literature & Aesthetics. Volume 22 Issue 1.

Olsen, H. Daniel dan Dallen J. Timothy. 2006. Tourism and Religious Journeys. Dalam Tourism, Religion and Spiritual Journey. Oxon: Routledge.

Paraszthy, Laura. 2015. Spirituality as a Hidden Tourist Attraction. Budapest: Budapest Business School.

Smith, M. (2003). Holistic Holidays: Tourism and Reconciliation of Body, Mind and Spirit. Tourism Recreation Research, 103-108.

UNWTO. 2013. International Conference: Spiritual Tourism for Sustainable Development.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *