Oleh: Dimas Panji Susanto

Pendahuluan

Media Massa merupakan media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan  pesan. Media  massa  dibagi  menjadi tiga  yaitu  media  elektronik  meliputi radio siaran dan televisi, media cetak meliputi surat kabar dan majalah, serta film sebagai media komunikasi. Dari pernyataan diatas film merupakan bentuk dari media massa yang  merupakan  bentuk  komunikasi  yang  bersifat  massal, heterogen  dan  dapat  menimbulkan  atau  memberikan  efek  tertentu  kepada khalayak.

Pada  saat  ini  dunia  film  sudah  sangat  maju  dengan  ditandai  dengan beberapa  produksi  film  yang  cukup  bagus  dan  menarik  untuk  ditonton. Menurut  Wibowo  (2006:196), Film  mempunyai  definisi  yaitu  bahwa  film adalah  alat  untuk  menyampaikan  berbagai  pesan  kepada  khalayak  melalui sebuah  media  cerita.  Film  juga  merupakan  media  ekspresi  artistik  sebagai suatu   alat   bagi   para   seniman   dan   insan   perfilman   dalam   rangka mengutarakan   gagasan-gagasan   dan   ide   cerita.  Secara   esensial   dan substansial    film    memiliki    power    yang    akan    berimplikasi    terhadap komunikan  masyarakat.

Film dibedakan berdasarkan sifatnya, ada yang bersifat komersial dan non-komersial, komersial  berarti  film  yang  beorientasi  pada  keuntungan, sedangkan  non-komersial  yaitu  film  yang  sekedar  memberikan  informasi dan  tidak  berorientasi  pada  keuntungan. Ada  juga jenis film documenter yaitu film yang hanya berbentuk dokumentasi. Film juga terdiri dari banyak sekali genre seperti, Film  aksi  atau  biasa  disebut  dengan action yaitu  film yang  biasanya  memuat  adegan  tentang  perkelahian,  tembak-menembak, kejahatan.  Film  horor  yaitu  film  yang  bercerita  tentang  dunia  mistis  dan dibuat   sedemikian   rupa   sehingga   memberikan   efek   mengerikan   pada penontonnya.  Film romantis yaitu film yang mengangkat kehidupan sehari-hari  akan  tetapi  biasanya  diselipi  dengan  beberapa  unsur  percintaan.  Film humor yaitu film yang berisi tentang hal-hal yang lucu atau parodi. Ada juga film  fantasi  yaitu  merupakan  bentuk  manifestasi  kreativitas  tingkat  tinggi yang  menuntut  imajinasi  bebas  sebebasnya,  namun  juga  tetap  logis  dan rasional.  Masih  banyak  sekali  jenis-jenis  film  yang  lainnya  seperti  drama, musikal, perang, dan sebagainya.

Dari segala sifat, jenis, dan genre film yang sangatlah variatif tersebut maka menjadikan  daya  tarik  bagi  para  konsumen  untuk  melihat film-film yang dirasa bagus dan cocok bagi konsumen yang ingin melihat. Dari   fenomena   itu,   banyak   produser/sutradara   yang   mulai   giat membuat  film  hanya  untuk  mencari  profit  tanpa  memikirkan  kualitas  film yang  dibuat.  Sineas  Garin  Nugroho  mengungkapkan  jika  perfilman  di Indonesia  berada  dalam masa krisis  tidak  heran jika  banyak  sutradara  yang membuat    cerita    mengenai    film    esek-esek    atau    tidak berkualitas (celebrity.okezone.com).  Akan  tetapi  tidak  semua  film  di  Indonesia  tidak berkualitas banyak juga film Indonesia yang meraih penghargaan Internasional seperti salh satunya adalah film Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak yang meraih penghargaan NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival 2017.

Menonton  film  juga  dapat  memberikan  pengaruh  atau  efek,  seperti ketika  menonton  film  drama  bisa  menimbulkan  efek  menangis,  kemudian menonton film horor bisa menimbulkan efek takut. menonton film juga dapat  mendorong   seseorang   untuk   berbuat   sesuatu   atau   dapat memotivasi  seseorang  untuk  melakukan  sesuatu  yang  mereka  rasa  cukup bagus dan menarik. Selain itu menonton film juga dapat menimbulkan rasa ingin tau tentang lokasi pembuatan film itu sendiri. Sehingga timbul keinginan untuk mengunjungi lokasi pembuatan film tersebut.

Dari pernyataan tersebut pariwisata dan film menempatkan  hubungan antara  lokasi  pembuatan  film,  cerita  film,  karakter dalam  film  dan  wisatawan  yang  terinspirasi untuk menghidupkan emosi yang dihasilkan film di lokasi pembuatannya. Tourism and film  menjadi  penting, karena dikenalnya  sebuah  negara salah satunya  karena  ciri-ciri  yang  melekat  pada film-filmnya.  Xiaoying  (2010) mencontohkan bahwa China mengakui  bila  sesuatu  yang  sangat  mencirikan suatu negara sebenarnya dikenal oleh dunia melalui film. Kini orang langsung terpikir Shaolin  tentang  China.

Dengan munculnya banyak produksi film di dalam negeri, berarti muncul peluang dikembangkannya wisata film di Indonesia. Asumsinya adalah bahwa perfilman Indonesia  sedang  bangkit.  Produksi  film  tanah  air  secara  kuantitas semakin meningkat. Produser film Indonesia juga sering menyertakan filmnya dalam  berbagai event festival internasional. Hal lain adalah karena alasan bahwa kekayaan  alam Indonesia yang sangat indah merupakan potensi untuk melakukan penawaran    pada produser-produser film internasional agar melakukan produksi di Indonesia, agar kemudian setelah tampil di layar secara internasional dapat menarik wisatawan   untuk   berkunjung ke Indonesia, utamanya  ke  lokasi-lokasi  pembuatan  film  tadi.  Melihat peningkatan produksi film nasional dan mengemukanya trend baru bidang  pariwisata, tampaknya wisata film ini baik pula untuk dikembangkan.

Kecenderungan  produksi  film Indonesia  mengarah  pada  pencarian  lokasi  baru  yang  eksotis,  baik  alam maupun budaya lokalnya. Apabila pembuatan film di Indonesia menampilkan  lokasi-lokasi  yang menarik minat untuk perjalanan wisata, maka akan terjadi kunjungan ke lokasi pembuatan  film  setelah  film-film  tersebut  diedarkan.  Iklim  seperti  inilah  yang disebut  dengan wisata  film,  yang  dalam  bahasa  Inggris  disebut  dengan film-induced  tourism,  yaitu  wisata  yang  terjadi  karena  imbas  dari  tayangan  film.

Film-induced Tourism

Film-induced tourism (pariwisata yang diinduksi film) adalah bidang penelitian pariwisata yang relatif baru (Croy dan Walker, 2003; Beeton, 2005). Film sekarang memiliki peran yang biasa mendorong pariwisata, meskipun seringkali ini dilebih-lebihkan. Selain itu, kompleksitas dan kehalusan peran film baru mulai dipahami (Beeton, 2005). Pemahaman yang berkembang tentang film dan hubungan pariwisata direfleksikan dalam definisi pariwisata film. Bahkan dengan fokus yang relatif baru pada pariwisata film, sudah ada berbagai definisi dan pemahaman konsep. Studi awal disajikan istilah ‘movie-induced tourism’ dan ‘television-induced tourism’ (Riley et al., 1998). Istilah-istilah ini menghadirkan film atau televisi sebagai ‘penarik’ pasukan bagi wisatawan untuk menentukan lokasi yang sebenarnya. Dengan demikian, peran utama film dan televisi adalah untuk membangkitkan kesadaran, keinginan, dan tindakan untuk mengunjungi lokasi yang disaring. Dalam masing-masing ini, fokusnya semata-mata pada media pilihan, bukan pada film dokumenter atau program perjalanan.

Peran Film Terhadap Perubahan Jumlah Kunjungan

Film dapat berpengaruh besar terhadap perubahan jumlah kunjungan wisata. Hal ini disebabkan karena penonton termotivasi terhadap lokasi wisata yang mereka lihat melalui sebuah film. Motivasi wisatawan untuk berwisata dipengaruhi motif pushdan pull (Hudson&Ritchie, 2006). Film tertentu cenderung memiliki daya tarik bagi wisatawan. Film merupakan media yang sukses untuk pariwisata jika alur cerita dan tempat lokasi film saling terkait karena film dapat memberikan gambaran secara visual dari lokasi film. Hal tersebut memberikan motivasi terhadap penonton film untuk mengunjungi dan mencari informasi mengenai  lokasi tempat pembuatan film (Hudson&Ritchie,2006).

The Hobbit: An Unexpected Journey

Foto: https://uvmbored.com/event/the-hobbit-an-unexpected-journey-extended-edition/

Sang Hobbit: Sebuah Petualangan Tak Terduga merupakan film fantasi tahun 2012 yang disutradarai oleh Peter Jackson. Berlatarkan sebuah desa buatan bernama The Shire di Selandia Baru, di sini dapat melihat panorama alam berupa perbukitan, danau, kebun, dan rumah rumah mungil yang menjadi tempat tinggal dari para hobbit. Dengan keunikan tersebut tak heran setelah penayangan film tersebut The Shire menjadi tempat yang terkenal dan banya orang yang ingin berkunjung dan melihat secara langsung setting lokasi film The Hobbit tersebut.

Dalam pernyataan tersebut menyebabkan kenaikan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Selandia Baru. Hal itu terbukti dalam Annual Report Tourism New Zealand 2012/2013 & 2014/2015 (tourismnewzealand.com). di tahun penayangan film The Hobbit Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Selandia Baru mencapai 2.600.000 wisatawan dan naik sekitar 7% di tahun 2014/2015 sebanyak 2.990.000 wisatawan.

Kalau merujuk data yang dilansir di https://www.ceicdata.com/en/indicator/new-zealand/visitor-arrivals dari kenaikan kunjungan wisatawan bukan hanya berhenti di satu atau dua tahun setelah penayangan film The Hobbit tersebut namun juga hingga tahun 2018 jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke New Zealand semakin bertambah.

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi merupakan sebuah film garapan sutradara Riri Riza yang di rilis September 2008 yang merupakan adaptasi dari buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Film ini menceritakan dunia pendidikan dan keindahan alam Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung, memberi dampak luar biasa, salah satunya pada sector Pariwisata terutama jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Belitung.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bangka Belitung Darwis Sitorus mengatakan semenjak film Laskar Pelangi boming jumlah kunjungan tamu asing dan domestik dalam 3 tahun terakhir terus mengalami lonjakan.

Darwis melanjutkan sejak tahun 2012 jumlah tamu asing yang datang untuk berwisata ke Belitung 1.864 orang sedangkan domestiknya 221.747 orang total 223.611 orang. Di tahun 2013 naik. Wisatawan asing 2.035 orang, wisatawan lokal 236.370 orang. Total 238.405 orang.

Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan it uterus terjadi di Belitung hingga tahun 2018 apalagi ditambah dengan Belitung masuk dalam 10 destinasi prioritas pengembangan pariwisata Indonesia. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, Hermanto, Kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara di daerah ini meningkat setiap tahunnya, angkanya mencapai sebesar 30 persen.

Penutup

Film dengan lokasi yang menarik dan tidak diketahui oleh orang sebelumnya berpengaruh dengan meningkatnya jumlah wisatawan setelah perilisan sebuah film, dengan belum adanya batasan waktu seberapa lama dampak meningkatnya kunjungan wisatawan tersebut ke sebuah destinasi yang dijadikan lokasi pembuatan film tersebut. Hal ini semestinya dapat dijadikan alat promosi bagi pihak yang ingin mengembangkan dan memperkenalkan daerah atau tempat wisata yang dimiliki. Untuk membuat inovasi media promosi seperti film yang mengambil lokasi pariwisata supaya menarik kunjungan wisatawan.

Referensi

Ayu, Dewi Aulya Atika, Suharyono, dan Wilopo 2011 PERAN PROMOSI PARIWISATA MELALUI FILM DALAM MENINGKATKAN JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN

Beeton, S. (2005) Film-Induced Tourism. Channel View Publications, Clevedon, UK. Beeton

Butler, R.W. (1990) The infl uence of the media in shaping international tourist patterns. Tourism Recreation Research 15, 46–53.

Karyadi, Fransiskus Xaverius Yatno 2015 PENGARUH TAYANGAN LOKASI FILM  TERHADAP MINAT KUNJUNGAN WISATAWAN DALAM “FILM-INDUCED TOURISM”

Rizal, Muhammad 2014 PENGARUH MENONTON FILM 5 CM TERHADAP MOTIVASI KUNJUNGAN WISATA KE GUNUNG SEMERU

Robinson, Peter, Sine Heitmann, and Dr. Peter Dieke. (2011) Research themes for tourism. UK. CAB International


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *